Jumat, 10 Januari 2014

PDT 32 Palagan Ambarawa By Dila Maretihaqsari

PDT 32 Palagan Ambarawa

August 31, 2008 at 2:05pm

Sepanjang Jalan Kenangan

Jogja-Ambarawa


(hari 1-2)

“ Ayo, gari sak plintengan neh!” Kalimat ini menjadi sebuah jimat yang membekas kala PDT tahun 2003. PDT kali ini mengambil rute Jogja-Ambarawa. Rute yang cukup membuat shock tetapi juga special. Kenapa bisa? Karena banyak kisah yang hingga kini masih begitu sayang untuk dibuang.

Sanggaku paling sangga!

Perjalanan kami dimulai dari sekolah tercinta Padamanaba. Aku tergabung dengan tim yang alhamdulillah geblek-geblek, heheh. Pos pemberangkatan berada di SMU 9, di Sagan. Jika regu yang lainnya (pendrobak, penegas, pelaksana) memilih untuk jalan kaki (galakkan anti Global Warming), sangga kami tetap yang paling praktis dan cerdas, yaitu naik bis jalur 2, haha. Secara yang menjadi pinsa adalah Christina Trijayanti alias mba’TJ, sangga kami mengusung tema praktis dan nyaman. Contoh konkritnya adalah: 1. Tidak pernah tidur di tenda (kecuali 1 malam kelabu). 2. Tidak pernah memasak (secara selalu jajan;D). 3. Selalu santai. 4. Tetapi tetap menang, ahahha! Totally, menyenangkan sekali bergabung dengan sangga ini. Kita memang jarang ada di barisan terdepan. Tapi itulah enaknya! Kembali kepada tema praktis dan nyaman, kami sering mendapat contekan jawaban dari pendobrak dan xx di pos-pos yang kebetulan mereka duluan. Hehe..sst jangan cerita-cerita ya ;p.

Mendadak Merampok Rumah

Hari ke-1. SMU9-Jl.Palagan-Jl.Magelang-Lapangan Jumoyo.

Mungkin sial mungkin gembira. Tentunya sudah pada tahu bahwa rumah salah satu anggota ambalan yang kebetulan berada dalam jangkauan rute PDT belum tentu selamat. Kenapa begitu? Karena akan dibuktikan dengan cerita berikut.

Yak! Tepat dugaan anda! Rumah saya merupakan tumbal tahun ini. Rumah saya berada di Jalan Magelang, otomatis dilewati oleh serombongan peserta PDT yang entah bagaimana bentuknya! Saat itu, hari semakin menjelang petang. Kaki kelelahan. Ada yang sudah mulai kapalan. Perut pun keroncongan. Pos entah pos berapa terletak di daerah Tempel, sungguh dekat dengan rumah saya. Seketika, tercetus ide untuk mampir ke rumah saya untuk sekedar menjamah makanan, dan menumpang ibadah. Sekonyong-konyong saya menelepon ibu saya, menodong makanan untuk orang sekitar 20 dalam waktu 1 jam.

Alhasil sampailah semuanya di rumah saya. Yang saya ingat menu malam itu hanyalah mie rebus, tahu, dan sebagian lagi saya lupa. Walau begitu saya menghargai usaha ibu saya yang sampai meminjam ricecooker tetangga karena takut nasinya kurang. Intinya adalah, malam itu kami menggemparkan orang rumah saya sekaligus tetangga saya.

Sekedar tambahan, setelah sampai di basecamp, sangga pelaksana protes pada kami karena tidak diajak mampir rumah saya. Alasan kami adalah demi prestasi pangkalan kita!!heheh..Secara sangga pelaksana dapat bendera etape hari pertama.

Operasi Kapal

Hari ke-2. Lpangan Jumoyo-Lapangan Candimulyo.

Gawat!Gawat!Gawat! PDT memang mengajarkan banyak hal. Dari yang tidak tahu menjadi tahu. PDT juga menimbulkan bayak efek samping. Dari efek kaki kapalan, lelah luar biasa, hitam, sampai kurus ;p.Kali ini adalah kasus kapalan. Saya jadi tahu sakitnya merasakan kapalan di kaki. Kejadian na’as ini terjadi pada hari ke-2. Sebenarnya banyak juga sih korban kapalan dari pangkalan kami. Oknumnya adalah Nica( Jin Poker), Chesa, Dila (alias saya, hehe), dan mungkin masih banyak lagi yang merahasiakan penyakit berbahaya ini, eheh. Cerita ini sedikit memalukan sih. Saya sempat diangkut ambulan sambil menangis karena kasus kapalan ini. La, sakit banget sih. Sampai di pos berapa entah lupa, Tim SBH (Saka Bhakti Husada—Red.) mengancam bahwa saya harus dioperasi, alias ‘kapal’ saya itu harus digunting, disobek-sobek, berdarah-darah, dan diplester. Weeeeer..saya langsung nangis deh, tidak rela telapak kaki saya amburadul, hehehe. Agak malu juga tapi apa boleh buat. Padahal sebenarnya kapalan saya juga tidak seberapa jika dibandingkan dengan milik Chesa atau Mba Nica. Kalau Chesa, malah berasa pakai sepatu kali, saking banyaknya. Mungkin diya koleksi. Dan asal tahu saja bahwa Chesa ini dijuluki dengan lemari berjalan. Gimana tidak? Carier yang dipakainya sebesar kulkas, sumpah. Pantas saja kapalan seluruh permukaan kaki. Untung tidak di mukanya yang ganteng, haha.

Keadaan sebaliknya dialami oleh peserta sangga pelaksana bernama Tika alias Cepi. Diya ini sangat membanggakan ramuan mujarobnya, ramuan anti kapal. Ramuan yang terdiri dari bawang merah goring dan minyak secukupnya ini sebenarnya sudah ditawarkan sejak hari pertama. Tapi, secara saya gengsi ya gimana..tangis dan malu ditanggung….saya sendiri, hehehe.

Malam hari ke-2 diisi dengan bersantai dan presentasi (opo kae sik cepi?) yang dilakoni oleh Tika, dll. Semua menyemangati!

(hari 3)

Harus dapat Etape!

Hari ke-3 PDT. SD Kalipucang-SD Bedono.

Hari pertama, sangga palaksana dapat bendera etape, yaitu bendera bagi siapa yang pertama kali menginjakkan kaki di basecamp. Entah kenapa, kami sebagai sangga perintis yang praktis dan nyaman merasa kebakaran. Kami juga pengen lah yauuw dapat bendera etape. Akhirnya hari itu kami bertekad harus dan wajib ain hukumnya untuk dapat bendera etape.

Untuk mencapai ini semua perlu perjuangan yang tidak ringan alias berat. Hari kedua diwarnai dengan guyuran hujan sepoi-sepoi (sepoi??—Red.). Saya masih ingat ketika saya memakai ponco, berjalan sendiri, lewat terminal, lewat pasar, waduuuh kalo sekarang mah maluuu banget! Tapi..demi Etape!!

Kami selalu dibayang-bayangi oleh ‘bayangan merah’, secara waktu itu sangga pelaksana berseragam merah, hehe. Setiap melihat sekelebatan merah, hayuuk! Tambah digenjot tambah aye!!

Perjuangan panjang tidak sia-sia hari itu, kami berhasil menjadi sangga pertama putri yang sampai di basecamp. Saya sampai terlihat kurus kering waktu itu (apa iya??—Red.). Masih ingat jelas, basecamp hari kedua adalah SD Kali Pucang! Nama yang cukup membuat dahi berkerut. Wow! Bletok-bletok oye! Di sinilah kesialan mulai menerpa. Dari jatuh kepleset dan numplek di depan umum, sampai merasakan tidur di lautan. Di sini pula terjadi kebodohan yang wagu. Misalnya, kejadian sore itu..para supplier datang. Mereka menawarkan mie ayam pada kami. Dan yang bikin ngenes adalah makan cara baru! Memakan mie ayam dengan sumpit yang berbahan baku bolpen! Tentu saja karena tidak ada sendok. Terobosan ini dicetuskan oleh Sidiq.

Malam itu kegiatannya adalah menonton film. Saya sih tidak konsen ke filmnya, konsen ke pesertanya, hahah! Secara film yang diputar agak tidak bermutu, tentang survive gitu sih, tapi gimana gitu deh, hehe. Justru acara nonton film ini disalahgunakan oleh sebagian oknum pangkalan kami untuk saling PDKT (pendekatan kalee..—Red.), haha. Sebut saja inisial RMD yang memberi cokelat batang kepada inisial INDH dengan menggunakan jasa YYK, hahaha, seru sekali.

Setelah puas dengan ajang PDKT (baca: nonton film bareng), sangga kami seperti biasa mencari mushola untuk tidur atau apapun yang beratap (secara kami anti tidur di tenda, hehe). Sayang seribu sayang, mushola tak ada.. (ada, tapi ga oleh ditiduri kata Bayu/Panitia PDT—Red.) di aula pun diusir panitia. Dengan sangat terpaksa, kami tidur di tenda.

Malam makin larut, nyamuk makin napsu, tiba-tiba saya merasakan sentuhan-sentuhan basah di dasar alas tidur saya. Yak! Bagus sekali! Ternyata tenda kami kebanjiran! Karena kami cerdas dan siap tanggap, kami segera mengevakuasi diri ke emperan kelas dan meniduri lantai apapun yang dikira muat dan kosong.

Paginya adalah kebanggaan bagi perintis. Penobatan eh penyematan bendera etape! Hore-hore berhadiah! Saya loo yang maju dan salah satu wakil sangga pendobrak berinisial RY. Salah satu yang sangat senang dengan perampasan bendera etape ini adalah mba NIca, nama bekennya sih jin poker, hehehe. Diya nih aye banget deh denganstyle perjalanannya. Tongkat di tangan kanan, payung di tangan kiri, muka menerawang tanpa harapan, sosok seperti bayangan. Dapat dipastikan bahwa dialah mbak Nica, hehehe. Tapi begitu dapat bendera etape, wedeee semangatnya..tapi tetap dengan styleyang sama.

Menyuap Komja dengan Mie Ayam

Naga-naganya, makanan berjenis mie ayam memang cukup popular di kalangan PDTlovers!Heheh.Pernyataan ini terbukti dengan kejadian berikut ini. Oiya, kalau untuk minuman yang ngetop waktu itu pepsi blue ;p (ga boleh ngiklan gretongan say..haruse bayar tuh!—Red.).

Waktu itu hari kedua, sangga pendobrak sangat eksis dengan berjalan tepat di belakang Komja (komandan perjalanan—Red.). Hujan mulai menerpa. Eh tidak dinyana, para Komja merasa kehujanan, ya iyalah orang udah dibilang ujan juga. Jadi, si Komja-komja itu merasa perlu berteduh alias berhenti, mungkin takut warna kulitnya luntur. Waa..sangga pendobrak panik ini. Kalau Komjanya berhenti, nanti sangga-sangga lain bakalan keburu nyusul dan kemungkinan bersaing makin besar lagi. Waktu itu, saingan terberat adalah sangga dari SMA 1. Segala daya upaya dilakukan oleh para pendobrak. Oknum waktu itu adalah Riyo, Eqi, Wijaya, Alfi, Dibob, Cesa, Taruna. Rayuan-rayuan maut untuk membujuk komja agar tetap jalan segera diluncurkan. Secara mereka orang-orang terlatih. Heheh. Materi pun dikorbankan. Mereka rela menyuap Komja dengan menjanjikan Mie ayam yang kemepul agar Komja tetap mau jalan. Tidak hanya itu, mereka juga meminjamkan ponco atau manthel mereka untuk para Komja itu. Bak pahlawan, Pendobrak mengarungi sisa rute hari kedua dengan menerjang hujan. Perjuangan yang mengharukan bukan? heheheh.

Kasus Pecurian

Berbagai macam kisah, cerita, suka, duka terjadi di sini. Sampai kasus pencurian pun tersedia (jreng-jreng..sontrek menyerupai backsound sinetron pas adegan tegang).

Oknum tersangka di sini adalah peserta dari sangga pendobrak berinisial DB (bukan demam berdarah). Obyek yang dimaling adalah TAHU. Hehehe, karena tidak tahan godaan, DB akirnya bertindak nekat dnegan menggondol tahu persediaan panitia di basecamp hari ke-3. Kejadian ini cukup membuat heboh teman-temannya karena DB dikenal dengan pribadi yang soleh, rajin ibadah dan rajin ceramah.

(hari 4-5)

Perang Bubat

HAri ke-4..

Seingat saya, hari ke-4 adalah hari yang beraaat sekali. Waktu itu saya sudah teler dan tidak sanggup membawa ransel saya. Alhasil, carier saya hari itu dibawakan oleh para penyelamat bumi dari sangga penegas, Sunar dan mas Yoyok, thanx a lot beby;), heheh. Dengan jalan yang lunglai lemah tak bergairah dan mengenakan kaos putih PPLB 2003 sampailah saya beserta keluarga perintis di stasiun Bedono. Wah..wah..mulai dari sini, entah kenapa semangat saya jadi berlipat ganda. Kami (perintis) bertemu dengan sangga-sangga lain yang sepangkalan;). Lalu, kami meneruskan perjalanan bersama-sama kebasecamp sambil menyanyikan Mars Padmanaba. Waduuh..senangnya saat itu. Secara kami memang artisnya PDT, ehehehh.

Hujan kembali mengguyur daerah xx sore itu. Kami lalu mengevakuasi diri (lagi-lagi) ke SD sebelah lapangan. Tenda-tenda dibongkar lagi karena hujannya sangat lebat sekali. Tapi, di sinilah peristiwa-peristiwa romantis terjadi, hahaha. Secara kan hujan bikin romantis..(maksa ya?). Oiya, jangan sampai lupa, di basecamp ini kami menemukan tempat favorit baru yaitu POM BENSIN. Heheh. POM BENSIN ini terletak tidak jauh daribasecamp. Fasilitasnya lengkaaap banget! Dari Mini market, kamar mandi, mushola, fullmusik pula! Duh, aji gile deh! Kami betah banget lama-lama kongkow di sini sore itu.

Malam hari ke-4 ini merupakan malam yang sangat spesial. FKR (Festival Kesenian Rakyat—Red.) akan digelar malam itu. Saya berperan sebagai Dyah Pitaloka di pentas drama yang berjudul Perat Bubat. FKR dari pangkalan kami kali ini menceritakan tentang perang Bubat antara kerajaan Pajajaran dan Majapahit (kalo gak salah hehe). Wah, FKR ini ayye banget deh. Sutradaranya adalah Mba Puspa. Kami sudah berlatih jauh-jauh hari. Kostum dan make-up pun telah disiapkan oleh para supplier yang selalu setia. Adegan Capoeira dari Mas Una dan Jabar sangat menarik perhatian. Totally, pentas ini sukses berat. Kami mendapatkan juara 1. Duuh..senangnya menang terus! Hahaha.

Kesimpulan dari hari ke-4 sih totally perfecto walaupun hujan mengguyur tanpa ampun. Banyak jajanan (dari mulai bakso sampai sate), fasilitas POM BENSIN cinta yang menyejukkan, dan suksusnya FKR.

Sepanjang Jalan Kenangan

Inilah momen terpenting selama lima hari PDT. Hari ke-5 atau bekennya sih hari terakhir. Kami punya tradisi tersendiri di setiap PDT hari terakhir. Kami, satu pangkalan akan sengaja jalan bersama-sama menikmati perjalanan dan tepat di depan penjaring alias belakang sendiri. Kami sudah tidak memikirkan etape, karena memang tidak ada, kami tidak memikirkan tugas dan sebagainya. Waah..enjoy banget deh.

Hari terakhir ini adalah harinya rel kereta. Hehe. Kami banyak melewati jalan rel kereta. Panasnya memang bukan main. Untungnya kami selalu sedia payung sebelum kebakaran. Heehe. Daan ternyata hari ke-5 kami punya agenda mampir ke rumah eyangnya mba westi (peserta sangga pelaksana). Kami mium-minum dan bercanda. Tampaknya penjaring mulai sebal dengan pemandangan ini. Hehe. Sampai-sampai kami berjalan di belakang penjaring..Wah..wah..rekor bukan??Heheh. Masuk MURI nih ;p.

Walaupun penuh keceriaan, tapi teryata menyisakan luka bagi sebagian kecil oknum (tepatnya saya sih, ahhaha). Pertamanya saya berjalan bareng Indah (sangga perintis), tetapi karena satu dan lain hal, kok akhirnya saya jalan sendiri ya? Hahah, puanas, tanpa payung pula. Si Indah itu malah sudah eksis dengan Wijaya, berpayung bersama. Selamat dan Sukses. Sementara saya harus menerima dengan qona’ah fenomena beberapa cinta lokasi di sepanjang jalan kenangan. Hahaha.

Okay! Setelah perjalanan pahit melihat penampakan, akhirnya bertemu juga dengan Museum Kereta Api Ambarawa. Waaahh..senangnya sudah sampai. Semua bergembira dan berkeringat. Rasanya puaas banget. Secara bersukur gitu udah sampai setelah nomaden selama 5 hari, juga menikmati pahitnya fenomena di depan mata. Hahaha. Setelah melewati tanjakan-tanjakan setan, melawan panas, menerjang badai, alhamdulillah, semuanya kembali berbinar setelah melihat stasiun itu.

Dari stasiun, kami berjalan bersama lagi menuju Museum Ambarawa yang terkenal itu dan berpulang ke Jogja dengan bis yang dikawal polisi. Kereen lo kami. Semua lampu merah diterjang. Hahaha.

Kembali lagi ke Jogja, kembali lagi ke balai kota. Selama pengumuman, kami kebanyakan bersorak sorai, secara banyak menangnya. Hahah, sombongnya. Dari FKR, fotografi, TTG, dll. Perintis pun memboyong juara 3 sangga pengembara. Hal ini sangatsurprise juga sih, secara kami selalu menyikapi pengembaraan ini dengan sangat santai. Hahah.

Kami berkumpul dan seperti biasa, melakukan ritual. Mengelilingi piala-piala yang bejibun (cailah), kami Menyanyikan lagi Syukur, meneriakan Bhakti Vidya, dan Mars Padmanaba! Sunar sang Pradana sampai tidak tahan untuk menitikktan air mata saking senangnya. Ayye, PDT 32 tamat!

Begitu banyak kenangan yang masih membekas dari PDT 32. Mulai dari cerita lucu, pahit, mengahrukan, dan perjuangan. Secuil kisah tadi mungkin tidak cukup membawa kita kembali menikmati indahnya PDT bersama Ambalan Kartini-Yos Sudarso. Namun, semoga cukup untuk mengobati kangen kita pada tingkah aneh dan jiwa petualang yang mungkin memudar untuk sementara waktu  .

Thx to: Semua actor dan aktris PDT 32 (Sunar, Yoyok, Putro, Jabar, Rohmad, Alfi, Riyo, Eky, Taruna, Wijaya, Cesa, Dibob, TJ, Dila, Indah, Nica, Nisa, Rossi, Ave, Ratih, Ninung, Tika, Westi, Jeane, Rani, Wono) Ambalan Kartini-Yos Suarso, Mbak Teje yang menemaniku menangis sepanjang jalan di hari ke-2, Sunar dan Mas Yoyok untuk membawakan tasku di hari ke-4, Wijaya penyelamatku selama PDT, Alfi yang selalu semangat! Indah tempat sampahku selama PDT, supplier, dan Riyo yang telah memberi warna di PDT 32, ahhaha!

Terimakasih semua. Bagi yang belum pernah mencicipi apa itu PDT, kaliyan rugi beribu-ribu kisah seru di dalamnya, heheheh.

Dila.

Nama beken pas SMA chubby.

Padz 61

2 komentar: